apa kabar wahai calon-calon pemimpin masa depan? semoga anda selalu diberikan kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk melanjutkan perjuangan untuk menggapai cita-cita bangsa. amin. 
Berjuang di jalan yang benar bukan hal yang mudah. Apalagi jika jalan yang ingin kita tempuh memiliki tujuan yang besar. Tentu saja tujuan yang besar akan diimbangi  dengan hambatan yang besar pula. Namun, jika kita masih bisa menjaga obor semangat yang ada didalam diri kita, semua itu akan menjadi hal yang mudah. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menjaga kestabilan obor semangat masing-masing. Kita tidak bisa menyamakan diri kita dengan orang lain. Oleh karena itu, disini saya hanya ingin berbagi bagaimana saya menjajaga kestabilan obor semangat yang ada didalam diri saya. 
Hal-hal yang saya lakukan untuk menjaga obor semangat saya yaitu;
1. Mendekatkan diri kepada Tuhan
Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan pasti tau apapun yang terbaik untuk kita. Tuhan selalu ada, sangat dekat dengan diri kita. Saat kita merasa sudah tidak memiliki semangat lagi, kita bisa mengadu kepada Tuhan kita. Tuhan pasti akan memberikan solusi yang terbaik untuk kita dengan cara Tuhan sendiri.
2. Bicara dengan orang tua
Orang tua adalah guru, teman, dan sahabat yang paling dekat dengan kita. Kita bisa berbagi cerita dengan orang tua. Orang tua akan peduli dengan kita. Rasa kepedulian orang tua kita biasanya dituangkan dalam nasihat-nasihat yang sangat bermanfaat untuk kita.
3. Tundukan hati dengan melihat orang-orang di sekitar kita
 Kita sering merasakan saat kita benar-benar terjatuh kedalam lubang penderitaan dan tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita. Kita membutakan mata kita sendiri dengan menganggap bahwa diri kitalah orang yang paling menderita didunia ini. Semua itu merupakan bentuk keputusasaan kita yang seharusnya bisa kita kikis secara perlahan. Saya selalu meluangkan waktu setidaknya sekali dalam seminggu dengan bersepeda untuk melihat, mendengar, dan merasakan dengan hati bagaimana 0rang-orang yang ada di sekitar kita bisa bangkit dari penderitaan mereka dan bahkan mereka menganggap bahwa itu bukan hal suatu penderitaan melaikan anugrah dari Tuhan yang harus mereka lalui dengan hati yang ikhlas. Saya sering membandingkan kekuatan hati saya dengan kekuatan hati mereka yang apabila saya ada di posisi mereka saat itu, belum tentu hati saya bisa setangguh hati mereka. Disanalah saya belajar bagaiman saya harus bersyukur, besikap ikhlas, pantang menyerah, dan menghargai diri saya sendiri. 
4. Membaca buku
Buku adalah jendela dunia. Pepatah tersebut sering terdengar di telinga kita. Saya kurang sependapat dengan pepatah itu karena buku bukan hanya sebagai jendela dunia namun buku juga bisa menjadi seorang penasihat setia yang bisa kita andalkan ketika kita sedang terombang-ambing didalam perahu ditengah samudera kehidupan yang penuh dengan teka-teki yang harus kita pecahkan.